Tak seberapa air yang mengalir
tuk menjalankan lini kehidupan,
tak terhitung jumlah kobaran api
tuk memberikan cahaya yang
berupa lentera kehidupan.
Namun, banyak saudara-saudaraku
menangis dan bercucuran air mata
melihat tubuhnya runtuh ditanah merah
diatas mawar merah.
Ketika manusia menemukan kehidupan
dia tembakkan senapan usaha
yang dilakukan dengan semangat
yang amat membara dengan
cinta tulus dari lubuk hatinya.
Mungkin, hanya langit yang tahu
tentang musibah dinegeri itu
dan mengapa semuanya terjadi ,
apakah dosa hamba-hambanya
negerinya jadi alam fana.
Tapi mengapa.............
langit masih menghiasi pelangi itu,
kalau ternyata bangsa rimba
sudah tidak ada lagi.
Jika manusia bersenang-senang
dan bumi mulai bersedih
siapa yang menjadi berdosa
mungkin hanya langit yang tahu
tentang kepribadian mereka didunia.
Jumat, 08 Mei 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Banyu Tresna
Banyu Tresna Karya : Moch.Farid Cahya Hendrawan Ana sawijining tresna tresna suci kang tak rangkep kelawan dedonga lan tetul...
-
Geguritan Irah-irahan: Pegat Trisno Dening : M.Faridcahya Hendrawan. Wayah wengi angina sumilir Udan gerimis ora uw...
-
Ana ing panggonan iki Panggonan ku nalika wayah esuk nganti Awan ngudi kaweruh nyuwun asih Saha kawelasan pituduh lan kamurahan Nge...
-
Langit mendung tumiyung mudhun Ngebis udan gerimis saktenane Kowe ngreti Aku , kowe maphakake Aku kok candhak tanganku kok Gandheng...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar